Ketika Anak-anak Mulai Tumbuh …
Posted by Usman Didi Khamdani on 18 Mei 2011

Siaap?? Satuu.. Duaa…
Posted in Tak Berkategori | No Comments »
Posted by Usman Didi Khamdani on 18 Mei 2011

Siaap?? Satuu.. Duaa…
Posted in Tak Berkategori | No Comments »
Posted by Usman Didi Khamdani on 30 Nopember 2009

Ragunan, 27-11-2009
Posted in keluarga | 2 Comments »
Posted by Usman Didi Khamdani on 12 Oktober 2009
Home sweet home. Rumah (baca: keluarga) adalah tempat kita berpulang dari segala kesibukan dan kebosanan. Adalah tempat mencairkan pikiran yang seringkali membeku karena berbagai kepenatan dan kejenuhan. Baitii jannatii … demikian pepatah yang lain menyebutkan.
Dan satu bagian terindah dari rumah adalah anak. Anak-anak. Ya, dengan berbagai polah dan ulahnya yang kadang membuat gregetan. Namun, banyak tingkahnya pula yang lucu dan menghibur, mengademkan hati dari kegerahan yang melanda.
Seperti saat puasa lalu. Seperti kebanyakan orang lainnya, hampir sebulanan tersebut, dengan terik mentari yang hampir tiap hari menyengat, membuat udara seperti terbakar, saya merasakan efeknya benar-benar kadang membakar kerongkongan dan emosi. Terutama saat sedang keluar kantor seperti saat berkendara motor–Alhamdulillah, di kantor sih adem karena ada AC, tapi tetap saja godaannya haus yang mana di hari biasa seharian di kantor saya bisa menghabiskan bergelas-gelas air minum, kadang memojokkan iman di hati saya. Syukurlah, sepulang kerja saya bisa menghibur diri dengan berkumpul dengan keluarga. Terutama dengan anak-anak: si kakak Nurul yang usianya sudah 2,5 tahun dan si dede Hamzah yang baru lahir akhir Juni lalu. Terutama Nurul yang ulahnya kadang suka membuat terpingkal-pingkal, seperti yang berhasil dijepret di bawah ini …

"ngadem dulu ah .."

"hmm .. segeeerr, manis lagi"
Keterangan: Foto diambil waktu bulan Ramadhan 1430 H lalu. Saat itu saya sedang berada di dalam kamar nonton tivi. Dari balik pintu kamar yang hordennya tersingkap, saya lihat Nurul mengendap membuka pintu kulkas dan dengan santainya duduk di situ. Ah, dasar bocah. Ada-ada saja ..
Posted in keluarga | Tagged: horee | No Comments »
Posted by Usman Didi Khamdani on 6 Oktober 2009
Ada yang berbeda di lebaran yang baru lewat kemarin. Setelah sekian tahun tidak berkumpul bersama alias saling bersilaturahmi sendiri-sendiri, kali ini, keluarga besar Mamih (sebutan buat nenek mertua; ibu dari ibunya istri saya) bisa berkumpul bersama, terutama Mamih dengan tiga orang kakaknya yang ada di Karanganyar, Jakarta Pusat yaitu Mak Enting, Mak Enjum dan Mak Endah–kembaran Mamih. Sebenarnya masih ada dua saudara Mamih lainnya yaitu Mak Titi (kakak Mamih nomor dua–setelah Mak Enting–yang sudah berstatus almarhumah) serta Mak Dion (Bogor) yang merupakan saudara paling bungsu, namun tidak hadir saat itu. Saya sendiri, beserta istri, yang biasanya mudik ke kampung halaman saya di Brebes, lebaran kali ini merayakannya di Pondok Indah Mertua di Depok, hingga bisa ikut berkumpul bersilaturahmi pula di Karanganyar.
Di bawah ini adalah foto-foto Mamih beserta ketiga kakaknya, yang Mamih sebut sebagai “Empat Dara”. Foto-foto, yang mungkin foto-foto terakhir yang mengabadikan mereka secara bersama-sama, mengingat usia mereka yang semakin senja, jarak, serta kesempatan yang semakin langka.

Empat Dara in Action (i)

Empat Dara in Action (ii)

Empat Dara Rame-rame
Keterangan: Foto-foto diambil di depan rumah Mak Endah di kawasan padat di daerah Karanganyar, Jakarta Pusat saat acara silaturahmi pada hari pertama Idul Fitri 1430 H (Minggu, 20 September 2009). Foto atas dan tengah (dari kiri ke kanan): Mak Endah, Mak Enting, Mak Juju (Mamih) dan Mak Enjum. Foto bawah: Mamih bersaudara beserta beberapa anak, menantu, cucu dan buyut–seperti Nurul, anak pertama saya; berdiri pada baris pertama posisi kedua dari kiri.
Posted in esai | Tagged: horee | 9 Comments »
Posted by Usman Didi Khamdani on 12 Agustus 2009
TEPATNYA awal bulan ini. Saat saya dalam perjalanan dari Tangerang menuju Depok untuk menghabiskan akhir pekan, di tengah perjalanan yang cukup melelahkan sore itu—karena kemacetan yang sambung-menyambung seperti tiada henti, BB saya berbunyi, mengabarkan beberapa email baru yang masuk. Saya hanya meliriknya. Beberapa postingan dari milis ditambah dua email dari phpclasses.org. Saya pun kembali bersandar di bangku bis kota dan mengantongi kembali BB ke saku celana. Baru saat sudah beralih ke angkutan kota (angkot), untuk sekedar menghilangkan kejenuhan, saya baca satu persatu email-email yang masuk tersebut. Hingga sampai email dari phpclasses.org … “Congratulations didi, This is a notification message to let you know that your package Check Active Comm-Ports Class is ranked as number 4 on the PHP Programming Innovation Award in the PHP Classes site during the month of June of 2009. It has gotten 7.14% of all votes.” A ha ..
Dalam hati saya langsung bersyukur. Padahal saat saya buat dan posting Check Active Comm-Ports Class ke phpclasses.org, tidak ada terbersit pikiran script class php yang berfungsi untuk mengecek keberadaan comm-port yang aktif dan belum digunakan pada komputer Windows ini bakal masuk nominasi—bahkan awalnya sempat juga saya pesimis postingan ini bakal diterbitkan karena tidak seperti postingan class saya sebelumnya yaitu tentang penghitung lama waktu suatu peristiwa dan juga jumlah waktu peristiwa-peristiwa pada suatu kurun (Count Hour Class) yang antara lain bisa diterapkan untuk aplikasi absensi karyawan yang langsung di-approve. Saya membuatnya karena saya memang juga membutuhkannya untuk sebuah aplikasi yang sedang saya kembangkan. Dan saya mempostingnya di phpclasses.org, semata karena saya memang ingin membaginya dengan teman-teman lain yang saya yakin banyak yang membutuhkannya. Karena saya merasakan, betapa menjengkelkannya ketika membutuhkan sesuatu, namun serasa sulit mendapatkannya. Sebelum membuat class ini, saya pun telah mencoba browsing terlebih dahulu, namun nihil. Beberapa yang saya dapatkan, agak susah untuk diterapkan—kalau tidak dibilang tidak bisa diterapkan sama sekali. Kalau toh ada, itu berbayar.
Awal bulan sebelumnya, saya memang mendapatkan sebuah email notifikasi dari phpclasses.org yang menyatakan bahwa Check Active Comm-Ports Class masuk sebagai nominasi pemenang innovation award postingan bulan Juni 2009. “Useful solution to detect active serial and parallel ports on Windows. Some applications need to communicate with devices plugged in serial or parallel devices. When there are several possible communication ports, it is useful to detect on which port the device is plugged. This class provides a solution to detect which ports have plugged devices on machines running Windows,” demikian isi email notifikasi tersebut.
Saat itu saya hanya bersyukur, “Alhamdulillah, ternyata karya saya bermanfaat.” Saya tidak berpikir bakal menang atau tidak. Bahkan saya tidak pernah mengecek berapa jumlah voting yang saya dapatkan. Hingga kemudian saya mendapatkan notifkasi bahwa karya tersebut menang di urutan ke empat dari total sepuluh pemenang dari mancanegara tersebut.
Kemenangan Indonesia
Selain rasa syukur karya saya mendapatkan innovation award, ada rasa bangga pula yang memenuhi dada saya, bahwa bendera Indonesia bisa berkibar kembali di sebuah tempat bergengsi, di tengah hiruk-pikuk isu dan teror bom yang melanda tanah air ini. Terlebih, selain saya, ada seorang pemenang lagi dari Indonesia, yaitu Jimmi yang berada di urutan ke tujuh dengan karyanya Jak8583. Jadi, jika Anda membuka halaman winners phpclasses.org bulan Agustus ini, ada dua bendera Merah Putih yang berkibar di sana.
Saya pun bangga, karena selain ada dua penerima innovation award bulan ini dari Indonesia, negara tercinta kita ini juga tercatat di urutan ke delapan penerima innovation award sepanjang awal tahun 2009 hingga sekarang ini dengan 3 paket class (satu lagi karya Alfan, PHP Text Classifier, yang menerima innovation award #10 dari total 14 pemenang di bulan Januari) yang mendapatkan 18 poin, mengalahkan Rusia dan China masing-masing 2 paket class serta 17 poin untuk Rusia dan 16 poin untuk China. Dan yang lebih membanggakan, salah seorang programmer Indonesia, Huda M Elmatsani, menempati urutan ke sembilan penerima innovation award sepanjang masa dengan total 33 poin atas 5 paket class yang menang mengalahkan Johan Barbier dari Prancis yang mendapatkan 32 poin untuk 6 paket class.
Yah, saya bangga, benar-benar bangga. Setidaknya, Indonesia masih bisa dipandang dari sudut lain, yang tentunya positif, selain gambaran bahwa Indonesia adalah negara yang carut-marut penuh teror. Dan saya yakin, sebenarnya, banyak bibit dan prestasi yang bisa kita banggakan. Yang bisa kita tunjukkan pada dunia.
Lewat tulisan ini saya hanya ingin berbagi pesan, berbuatlah kebaikan, berbagilah apa yang bisa kita bagi, terutama ilmu dan pengetahuan. Sekecil apapun. Toh, tidak ada ruginya. Dan percayalah, bahwa semua kebaikan, yang diawali dan dilakukan dengan penuh keikhlasan, pasti akan mendapatkan ganjarannya, akan mendapatkan imbalannya. Dan satu lagi yang terpenting, banggalah selalu menjadi warga negara Indonesia. Berbuatlah apa yang bisa kita perbuat untuk negara tercinta ini. Sekecil apapun. Karena gunung yang besar dan tinggi, toh susunanya adalah batu-batu kecil pula. Yakinkan pada dunia, bahwa Indonesia, bahwa orang-orang Indonesia, tidaklah senegatif yang mereka kira. Jika bukan kita yang menjaga nama baik negara ini, siapa lagi?
Berkibarlah benderaku, merah putih gagah perwira ….!!!
Selamat Ulang Tahun ke-54 Indonesiaku tercinta. Sekali Merdeka Tetap Merdeka!!
Posted in esai | Tagged: merah putih indonesiaku di blogdetik | 8 Comments »
Posted by Usman Didi Khamdani on 11 Agustus 2009
kemerdekaan adalah meminum
segelas kopi di pagi hari
tanpa terbebani mimpi hujan yang
membakar tubuh kita atau ketakutan
menjelang dan menapaki hari
yang semakin keras dan tajam berkerikil
kemerdekaan adalah asyiknya
kita bercengkrama dan berdiskusi
tentang etalase toko-toko mewah
tanpa disatroni obsesi untuk memilkiki
atau kemurkaan karena kedengkian
kemerdekaan adalah diskusi kita
tentang langit, gunung, laut dan manusia
tanpa dididkte oleh kecurigaan
atau kemunafikan; memihak
dan menjegal lawan
kemerdekaan adalah kita
tidur di malam hari
tanpa harus takut langit akan runtuh
atau bumi yang membelah-belah
tapi kemerdekaan …
adalah pun kerja keras kita
mendirikan tiang rumah
menghiasi ruang tamu
menanami pohon di halaman
…
Tasikmalaya, 151199 pagi
Posted in puisi | Tagged: puisi | No Comments »